RIP Hakneter Haktaek: Adat Wesey Wehali Malaka 

Ketua OMK Paroki Santa Maria Fatima Betun

Malaka,Beritapagi.Id-Persoalan demi persoalan muncul ke permukaan. Tensi politik yang semakin memanas membuat para pendukung menunjukan diri kalau mereka sudah memilih pasangan calon (paslon) tertentu. Mereka tidak akan merubah pilihan hingga hari pemungutan suara.

Setelh konflik yang terjadi kali lalu antara pendukung paslon SBS-WT dan wartawan, kini benturan fisik terjadi lagi antara pendukung paslon SN-KT dan Paslon SBS-WT. Tidak ada yang diuntungkan dengan ketegangan ini. Justru pribadi bersangkutanlah yang  rugi karena harus berhadapan dengan hukum. Tuduh-menuduh siapa salah, siapa benar terjadi antara para pendukung paslon 01dan 02.  Siapapun yang benar, silakan buktikan melalui mekanisme hukum.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 secara jelas menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah Negara Hukum. Yang artinya bahwa setiap perbuatan, tingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara diatur oleh hukum. Siapapun yang melakukan pelanggaran terhadap hukum, sudah sepatutnya ditindak tegas.

Pesta Demokrasi dicederai dengan tindakan premanisme yang membuktikan bahwa pemahaman politik masih di bawah standar.  Memaknai politik bukan dengan mencelakai orang lain demi memenangkan paslon tertentu. Tetapi memahami bahwa politik bukanlah alat untuk memecah-belah ikatan persaudaraan.

Para pendahulu, nenek moyang kita telah menggariskan bahwa hakneter no haktaek malu (budaya saling menghormati dan menghargai) adalah ciri khas kehidupan masyarakat Belu Selatan. Para pendahulu memahami bahwa ikatan yang membuat kita rukun dan kuat adalah hakneter no haktaek malu. Kita tidak boleh kambinng hitamkan perkembangan teknologi dan pertukaran informasi sebagai penyebab hilangnya hakneter no haktaek malu.

Tanyakan kepada diri, apakah saya masih ada hakneter no haktaek dalam diri saya.

Hakneter dan haktaek adalah jati diri setiap kita yang menyebut diri sebagai anak Malaka. Hakneter dan haktaek adalah simbol bahwa kita bersaudara. Kita sama. Kita sederajat.

Hakneter no haktaek adalah bukti cinta dalam adat Wesey Wehali. Bukti kita saling menyayangi.

Mari Ina Ama, maun, bin no alin sia hotu-hotu, kedepankan hakneter no haktaek malu. Politik bukanlah alasan untuk kita melupakan akar keberadaan kita. Ita ran ida, Ran rai malaka.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *